Contoh Narrative Text Tentang Si Pahit Lidah Beserta Artinya


Hai sobat, seperti yang telah tergambar jelas dari judulnya, contoh Narrative Text tentang Si Pahit Lidah kali ini akan menyajikan cerita rakyat tentang Si Pahit lidah dalam Bahasa Inggris. Saya yakin sobat pelajar semua tentu sudah sangat familiar ya dengan karakter Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Kedua tokoh ini merupakan karakter yang sangat sering kita jumpai dalam buku pelajaran di sekolah maupun buku cerita anak. Bahkan dari jaman dulu sewaktu saya masih SD, film laga tentang pertarungan antara Si Pahit Lidah Dan Si Mata Empat sudah ada dan di kenal secara luas di Indonesia.

Contoh Narrative Text tentang Si Pahit Lidah yang saya sajikan di bawah ini menurut saya merupakan salah satu kisah Legenda di Indonesia yang tidak mudah untuk menentukan asal daerahnya. Karena ternyata hingga kini masyarakat dari beberapa daerah meyakini dengan kuat bahwa cerita rakyat ini berasal dari daerah mereka. Namun secara garis besar legenda si Pahit Lidah ini berasal dari Sumatra. Kisah ini juga bukan satu-satu nya cerita legenda Indonesia yang saya angkat kedalam contoh Narrative Text Bahasa Inggris, telah tersedia beberapa cerita lainnya yang bisa sobat temukan dalam artikel yang berjudul Contoh Narrative Text Legend Di Nusantara. Silahkan kunjungi postingan itu jika sobat ingin tau lebih jauh. – Bigbanktheories.com

Cerita Rakyat Si Pahit Lidah Dalam Bahasa Inggris

Contoh Narrative Text Tentang Si Pahit Lidah Beserta Artinya

Contoh Narrative Text Tentang Si Pahit Lidah (The Bitter Tongue)

Contoh Narrative Text tentang Si Pahit Lidah berikut ini akan menceritakan sekilas tentang pertarungan legendaris antara Si Pahit Lidah dengan Si Mata Empat. Memang benar bahwa di masyarakat terdapat berbagai versi cerita Si Pahit Lidah dan seperti yang sudah saya sampaikan di atas, tidak mudah untuk mengklaim versi mana yang benar atau asli. Namun sejauh ini, kisah pertarungan antara kedua tokoh inilah menurut saya yang paling banyak diketahui oleh masyarakat. Silahkan simak selengkapnya di bawah ini.

Related: 5 Contoh Recount Text Pendek Beserta Artinya Tentang Liburan

The Bitter Tongue and the Four Eyes

Retold by: Indah Nurhasanah

Once upon a time, somewhere around South Sumatera, in a place called Banding Agung, there lived two mighty warriors. They were quite famous and well-respected by the people around Banding Agung, including their contenders. They were notably called as the bitter tongue and the four eyes.

One day, the bitter tongue came to meet the four eyes. He declared with all his might. “O! The four eyes! I’ve heard the hearsays about what a great warrior you are! But, I believe that you are still out of my league.” said the bitter tongue confidently.

Feeling disgraced by the bitter tongue’s arrogant declaration, the four eyes reacted –not less arrogant- , “Huh?! I don’t know what you’re talking about. Who do you think you are? Do you think that you’re the greatest of all? Then, you don’t know me, my friend. What about a duel? To prove which one is the greatest once and for all?” triggered the four eyes.

Feeling his pride a little shattered, the bitter tongue said, “All right, I will accept the challenge. You and I must lay down under the clump of palm tree. Then it will be trimmed. The one who can dodge the clump, is the winner.” He replied.

Upon hearing his challenge answered by the bitter tongue, they then decide the appropriate time and place for their duel.

Day after day, night after night, the time of duel had finally arrived. It was the four eyes who took the first turn. He was not called as the four eyes for nothing, it was indeed a very amicable alias for him as he does have four eyes in his head, two eyes on his face and two more at the back of his head.

The Bitter Tongue climbed the palm tree skillfully and succeeded in trimming the palm sugar. Meanwhile, the four eyes face down below the clump of the palm tree. By the help of his eyes at the back of his head, he succeeded in dodging the palm sugar which had been cut by the bitter tongue beforehand. He was safe and sound at last.

Then, here come the time for the Four Eyes to climb up the palm tree. He did it with great agility, not-less skillful than the Bitter Tongue. Meanwhile, it was the time for the Bitter Tongue to lay down under the palm tree, just like what the Four Eyes had done before.

Upon reaching the top of the palm tree, the Four Eyes trimmed down the palm sugar and it fell right away. The Bitter Tongue, who did not know that the palm sugar had been cut by his contender, kept on facing down under the palm tree. Therefore, his body was tragically hit by the palm sugar. He died instantly.

Seeing his contender lied down on the ground, dead, the four eyes smirked with great satisfaction radiated throughout his face. The bitter tongue was indeed just like what he had been expected before. That man was not as great as the rumor said he would be. He was more certain that he himself was still the greatest warrior of all. No matter how strong his contenders could be, they would still be out of his league.

“You think you were that great huh? You were nothing but a hearsay.” said the four eyes to the bitter tongue’s dead body.

In spite of the fact that he won the challenge, the four eyes was still wondering about what was behind the bitter tongue’s alias.

The four eyes frowned, “But why was he called as the bitter tongue?… Was it because he really had a bitter tongue or what…?” he wondered to himself.

Out of curiosity, the four eyes approached his contender’s dead body. After that, he opened the bitter tongue’s mouth. As the four eyes looked over his mouth closely, he was surprised there was nothing special with his mouth. It was different than what he had imagined before. He thought that there would be something different with how it looked like. But it was as ordinary as any men would have.

“Wait a second, was it really bitter?” the four eyes wondered and ended up touching the bitter tongue’s tongue with his index finger. He licked the finger which had touched the tongue fearlessly, without any suspicion whatsoever. “hmm.. it was indeed terribly bitter.” He whispered to himself.

Unfortunately, he never knew that this particular lick would become a disaster for his own life. The bitter taste coming out of the tongue was in fact a very deadly poison contained inside the bitter tongue’s saliva. It was extremely bitter and deadly, that it killed the four eyes not long after his victory. The four eyes fell down to the ground not too far from the bitter tongue’s dead body.

Considering the fact that two of the most powerful warriors ever-known in Banding Agung were both dead, there were no other great warriors ever appear again in that region. At least not as great as the four eyes and the bitter tongue.

In spite of the fact that they both had amazing skill and power to be called as the greatest warriors, they died due to one very particular mistake, a mistake which considered petty by most people, their own vanity. The bitter tongue who felt like he was the greatest warrior of all and no one could ever surpass his greatness as a warrior. And the four eyes for underestimating his contender, even though his contender was already dead.

Their bodies were buried near the edge of Danau Ranau, in which it was known as one of the most popular tourist destinations in Indonesia with its breathtaking view and the richness of its culture, including the legend about the bitter tongue and the four eyes.

Terjemahan Contoh Narrative Text Tentang Si Pahit Lidah

Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Diceritakan kembali oleh: Indah Nurhasanah

Pada zaman dahulu kala, di suatu tempat di Sumatra Selatan, di tempat yang disebut dengan Banding Agung, hiduplah dua orang yang sakti. Mereka cukup terkenal dan disegani oleh masyarakat Banding Agung, termasuk pesaing mereka. Mereka dikenal dengan julukan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat.

Suatu hari, Si Pahit Lidah datang menemui Si Mata Empat. Dia pun menyatakan dengan tegas nya. “Hai Kau Si Mata Empat! Aku mendengar kabar angin tentang betapa hebatnya engkau! Tapi aku yakin kau sebenarnya masih kalah jauh dariku” ujar Si Pahit Lidah dengan yakinnya.

Merasa dihina oleh pernyataan sombong Si Pahit Lidah, Si Mata Empat pun menanggapi dengan tak kalah sombong nya, “Hah?! Aku tak paham apa yang kau maksud. Kau pikir siapa dirimu? Kau pikir kau itu yang paling hebat? Kalau iya berarti kau tak kenal siapa aku, kawan. Bagaimana kalau kita bertarung saja? Untuk membuktikan siapa yang lebih jago diantara kita?” tantang Si Mata Empat.

Merasa harga diri nya sedikit terganggu, Si Pahit Lidah pun berkata “Baiklah, aku akan menerima tantangan itu. Kau dan aku harus berada di bawah rumpun pohon aren. Kemudian rumpun itu akan dipangkas. Siapa yang bisa menghindari rumpun itu adalah pemenang nya.” Ujarnya mencoba menantang balik.

Setelah tantangannya di jawab oleh Si Pahit Lidah, mereka pun memutuskan waktu yang tepat untuk melaksanakan pertarungan itu.

Hari demi hari, malam demi malam, hingga waktu pertarungan pun tiba. Si Mata Empat lah yang mengambil giliran pertama dalam pertarungan itu. Dia di juluki Si Mata Empat bukannya tanpa alasan, itu merupakan julukan yang sesuai untuknya karena dia sungguh memiliki empat mata di kepala nya, dua di wajah nya dan dua lagi di bagian belakang kepala.

Si Pahit Lidah memanjat pohon aren dengan cekatan dan berhasil memangkas rumpun aren. Sementara itu, Si mata Empat sudah berada di bawah rumpun aren itu sambil menghadap ke bawah. Sangat terbantu dengan dua mata tambahannya di belakang kepala, dia berhasil menghindari rumpun aren yang dijatuhkan ke arahnya. Dia pun selamat.

Kemudian, giliran Si Mata Empat yang memanjat pohon aren. Dia pun melakukannya dengan cekatan, tak kalah gesit dengan Si Pahit Lidah. Kali ini Si Pahit Lidah yang berada di bawah pohon aren, sama halnya dengan yang dilakukan oleh Si mata Empat sebelumnya.

Saat mencapai puncak pohon aren itu, Si Mata Empat memotong rumpun aren itu dan rumpun itu pun jatuh. Si Pahit Lidah yang tidak tau bahwa rumpun aren itu telah di potong oleh lawan nya, tetap saja menghadap ke bawah. Oleh karena nya, tubuhnya pun tertimpa rumpun aren yang jatuh itu. Dia pun mati seketika.

Melihat lawannya terbaring mati di tanah, Si Mata Empat menyeringai dengan penuh rasa puas. Si Pahit Lidah ternyata memang seperti dugaannya. Ia tak sehebat kabar yang beredar. Si Mata Empat jadi semakin yakin bahwa dialah petarung paling jago diantara semua orang. Tak peduli seberapa kuat lawannya, mereka dianggapnya jauh di bawah.

“Kau pikir kau hebat heh? Kau itu tak lebih dari sekedar kabar angin.” Ujar Si Mata Empat pada tubuh Si Pahit Lidah.

Terlepas dari fakta bahwa dia memenangkan pertandingan itu, Si Mata Empat masih saja penasaran akan cerita dibalik julukan Si Pahit Lidah.

Si Mata Empat mengerutkan kening, “Mengapa ya dia dijuluki Si Pahit Lidah? Apakah itu karena dia benar-benar memiliki lidah yang pahit atau apa?” dia mengira ngira sendiri.

Karena rasa penasarannya, Si Mata Empat pun menghampiri tubuh lawannya itu. Kemudian, dia membuka mulut Si Pahit Lidah. Saat dia melihat secara lebih dekat kedalam mulut Si Pahit Lidah, dia pun kaget karena tak ada hal yang special dengan mulut nya. Hal itu sungguh berbeda dengan apa yang dia bayangkan. Dia pikir akan ada yang berbeda dengan bentuknya. Namun itu sama saja seperti mulut orang pada umumnya.

“Tunggu sebentar, apa itu benar-benar pahit ya?” pikirnya lagi sambil menyentuh lidah Si Pahit Lidah dengan jari nya. Dia pun kemudian menjilat jari nya yang telah menyentuh lidah milik Si Pahit Lidah tadi, tanpa ada keraguan atau apapun. “ Hmm.. ternyata memang benar pahit.” Dia berkata pada dirinya.

Sayangnya, dia tak pernah tau bahwa jilatan itu akan jadi bencana bagi nyawanya sendiri. Rasa pahit yang muncul dari lidah itu sebenarnya adalah racun yang mematikan yang terkandung dalam air liur Si Pahit Lidah. Itu sangatlah pahit dan mematikan, hingga itu membunuh Si Mata Empat tak lama dari kemenangannya. Si Mata Empat pun tumbang ke tanah tak jauh dari tubuh Si Pahit Lidah.

Mengingat fakta bahwa dua petarung paling kuat yang pernah ada di Banding Agung sudah mati, tidak ada lagi petarung hebat muncul dari daerah itu. Setidaknya tak sehebat Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah.

Meski fakta nya adalah mereka berdua memiliki keahlian dan kekuatan yang luar biasa hingga di juluki petarung paling hebat, mereka mati karena satu kesalahan yang sama, kesalahan yan dianggap remeh oleh kebanyakan orang, kesombongan mereka sendiri. Si Pahit Lidah yang merasa seolah dia adalah petarung terhebat dan tak ada satupun yang mampu melampaui kehebatannya sebagai petarung, dan Si Mata Empat yang meremehkan lawannya meski lawannya telah mati.

Tubuh mereka di kuburkan di dekat tepi Danau Ranau, yang dikenal sebagai pusat wisata paling popular di Indonesia dengan pemandangan nya yang begitu indah serta kekayaan budayanya, termasuk legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat.

Seperti itulah tadi sobat contoh Narrative Text tentang Si Pahit Lidah dari Sumatra. Mudah-mudahan dengan membaca cerita ini sobat bisa mempelajari banyak hal, khusus nya terkait dengan pelajaran Bahasa Inggris. Terimakasih atas waktu yang sudah kamu luangkan untuk membaca tulisan kali ini, saya akhiri sampai di sini dan sampai jumpa lagi. Silahkan kunjungi juga artikel terbaru saya yang berjudul Contoh Narrative Text Legenda Rawa Pening Dan Terjemahannya.

Referensi:

  1. Si Pahit Lidah Dan Si Mata Empat – http://alkisahrakyat.blogspot.com/2016/07/si-pahit-lidah-dan-si-mata-empat.html – Diakses tanggal 5 Mei 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *